Wednesday, July 1, 2009
Media Masyarakat Indonesia
http://www.kompas.com/index.php/search?cx=011428293961880229710%3A60uxcxj-fai&cof=FORID%3A9&q=aborsi
Detik
http://search.detik.com/index.php?query=aborsi&fa=detik.search
Tempo
http://www.google.com/cse?cx=partner-pub-6260878263544661%3A968k7p-bnc2&ie=ISO-8859-1&q=aborsi
kapanlagi
http://search.kapanlagi.com/?cx=015807142566320303553%3Ak1dkqrp_-k8&hl=id&cof=FORID%3A11&q=aborsi&oo=1#2065
astaga
http://www.astaga.com/
reuters
http://search.us.reuters.com/query/?q=abortion&s=US&searchWhere=NEWS
aljazera
http://english.aljazeera.net/Services/Search/Default.aspx
http://www.imdb.com/video/wab/vi691602201/
film dokumenter by Nia dinata
tentang sunat perempuan dan pengecekan pap smear perempuan yang belum menikah. ada di aljazera, koreleasinya dengan aborsi- pengadaan informasi dan legalisasi yang membuat diskriminasi perempuan berkurang dan adanya kesadaran tentang hak perempuan dalam masyarakat. Kesehatan perempuan meningkat bukan secara fisik saja tapi psikologi, pemberdayaan maslow hierarchy of needs. ada security- dokter/ tenaga medis yang imparsial, balanced, and giving proper information dan social-self esteem, mengenal dirinya sendiri dalam lingkup kehidupan sosial dengan lebih baik atas dasar informasi yang bukan diberikan oleh mainstream.
bio-ethics
----------
introduction to bioethicsjohn bryant, Linda Baggott la velle, John SearleJohn wiley and sons, ltd2005 england
halaman 11 embryos, foetuses and abortion: issues of life before birthhal 185-198
perpus uph 174.957 bry i
-------lihat juga penggunaan chapter 12, decisions at the end of lifewhen may i die and when am i dead.arguments for voluntary euthanasia ada openess, necessity, autonomyopenness,Britsh medical association opposed, almoust setengah dari doktermau perubahan atas peraturan/lawnecessity, an emotionally powerful argument "if you would not let a doglife like this why a person?"autonomy,21st century culture of western society
downside of autonomy, dalam keberadaan tidak berdaya siapa yang berperanstudi di neterland, 1991 dan 2001 2000-4000kasus per tahun kematian. dokterdapat rekomendasi malah dari orang sekitarnya, bukan pasien
dapat diambil dalam chapeter 4 kapan manusia punya jiwa.
-----------------
Euthanasia, Ethics and Public policy
an argument against legalisation
by john keown
cambridge University, 2005(2002)
179.7 KEO e
mencerminkan political power struggle using divided issues in society primarily using conservatism and liberalism as the bias in euthanasia regarding related cases in the UK.
---------------
Time for truth
living free in a world of lies, Hype and spin
by OS guiness
hourglass books, baker b0oks, USA 2002(2000)
20th century progress of media half conservatism half niche-liberalisation, in correction to the media influence the people turn to a more dynamic media view and progressive cultural changes. Rapid stream of information started in the later stage of the 20th centtury, dilanjutkan ke beginning of the 21st century.l
menjelaskan dalam bab 1, back to the moral stone age, thou shalt not judge- hal 24
west have crisis of truth+2: ethics and character, in the 90s mtv and new york times brought up 7 deadly sins back to the mainstream, ethics were back.
beneath the surface hal 25
"MORALITY IS SIMPLY THE ATTITUDE WE ADOPT TOWARD PEOPLE WE PERSONALLY DISLIKE" says oscar wilde.
ethics becomes trendset, more social than personal,focus on prevention "not getting caught" rather than principals, current ethics are often taught with a shallow view of human nature and an even more superficial view of evil in human society, ethics in elite intelectual centers has an element of absurdity since they have no moral content left to teach.
-read the book primarity for the reasons. remember crisis is opportunitty.
--------------------
A cross cultural introduction to bioethics
darryl rj macer, phd editor
eubios ethics institute 2006
christchurch, nz.
http://www.unescobkk.org/
174.957 ACR a
halaman 192 lifestyle and fertility
information abundance regarding proper health treatmeents and control leads to a healtier lifestyle that is, regardless of personal and social issues, carry on planned lifestyle-future family planning in assoiation to knowledge to the medical terms of diseases and abnormalities with such procedures available to cover them. dilihat juga dari social environmentnyua, assisted reproducationnya. hal 206-abortion. most because of social tension and partiarchal society, sex selection and determination occurs largely in poor population of india korea and china
Hillary Clinton
http://www.bkkbn.go.id/Webs/DetailBerita.php?MyID=179
sites
http://www.infid.org/newinfid/newsdet.php?pci=3851
http://books.google.com/books?id=p3-YTL9JBIwC&pg=PA50&lpg=PA50&dq=Wardah+Hafidz+abortion&source=bl&ots=Xq00lrIBNK&sig=YL-T3tkY9zrSn85rfrD417S4jTk&hl=en&ei=gmFLSpj-M5TtlAfCvY0p&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4
BKKBN
http://www.bkkbn.go.id/Webs/cariindex.php?q=ABORSI&part=Berita&submit.x=0&submit.y=0
Globalisasi dan Feminisasi Kemiskinan
Globalisasi dan Feminisasi Kemiskinan
10 Mei 2008
Diskusi Bersama Forum Belajar Internal (FBI) Bersama Wardah Hafidz
Sebut saja namanya Yuni, perempuan berumur 22 tahun ini pada awal Maret 2008 lalu baru saja dibebaskan dari penjara Arab Saudi, dan pada bulan itu pula Yuni dipulangkan ke Indonesia. Yuni tidak pernah menduga cita-citanya untuk mereguk dinar berakhir dalam penjara. Tidak hanya penjara, selama hampir dua tahun, Yuni tidak dapat mengontak orang tuanya di daerah Jawa Tengah. Gaji Yuni pun sempat tidak dapat dinikmati selama sembilan bulan. Dan akhirnya tuduhan melarikan diri dari majikan hingga melakukan guna-guna mengantarkan Yuni ke dalam penjara selama lebih dari 12 bulan.
Yuni mungkin bisa dibilang sedikit beruntung, kesengsaraannya sebagai buruh migran tidak sampai merenggut nyawanya. Thofilus Itta dan Siti asal Surabaya, lain lagi, mereka terenggut nyawanya sesaat setelah mengantri minyak tanah. Kejadian ini terjadi beberapa minggu yang lalu. Kelangkaan bahan bakar minyak tanah dan melambungnya bahan tersebut memaksa sebagian ibu rumah tangga mengantri mendapatkan bahan bakar walaupun harus mengantri berjam-jam di bawah teriknya panas matahari.
Jauh dari rumah Yuni (Semarang), Itta dan Siti (Surabaya), pemerintah kabinet bersatu telah menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga 28,7 persen pada 24 Mei 2008 dini hari . Asumsi yang dibangun adalah pemerintah sudah tidak sanggup lagi mensubsidi BBM karena akan mengempes APBN negara, selain itu pemerintah merasa subsidi tidak tepat sasaran, hanya masyarakat menengah ke atas yang menikmati subsidi ini. Entahlah, apakah pemerintah tidak menghitung kenaikan BBM sama dengan inflasi dari mulai transportasi, bahan makanan pokok dan sebagainya. Terlepas pro dan kontra, masih saja terdapat banyak pengerukan bumi Indonesia dengan multinational corporation (mnc) yang tidak kunjung berhenti
Dalam konteks inilah, Forum Belajar Internal (FBI) Komnas Perempuan di bawah Komisi Pendidikan dan Litbang mengadakan serangkaian diskusi berkaitan dengan globalisasi, Pemiskinan Perempuan dan Hak asasi manuasia (HAM). Dalam kata sambutannya, Neng Dara Affiah, Ketua Sub Komisi Pendidikan dan Litbang menyatakan bahwa ketika sebuah negara mengalami keterpurukan ekonomi, maka masyarakat yang paling rentan menanggung beban tersebut adalah perempuan. Dalam masyarakat kita, perempuan atau para istri masih kuat berfungsi sebagai pengelola manajemen rumah tangga. Para istrilah yang mengelola keuangan rumah tangga, mengatur kebutuhan harian yang menyangkut pangan (makan), sandang (pakaian) dan papan. Karena itu, ketika para suami tidak mampu lagi menopang ekonomi keluarga, maka para istrilah yang rela ‘berkorban’ meninggalkan anak dan keluarga untuk bertahan dengan hidupnya, misalnya dengan menjadi pembantu rumah tangga di luar negeri dan di kota-kota besar. Selain itu, para perempuan pun masuk ke dalam sektor kerja yang sebetulnya kurang ada perlindungan terhadap mereka, misalnya menjadi pekerja seks maupun pekerja hiburan. Tetapi semua pekerjaan itu harus dilakukan perempuan yang tidak memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak, karena dirinya dan mungkin keluarganya harus bisa survive di tengah-tengah pusaran kemiskinan. Inilah barangkali yang disebut sebagai feminisasi kemiskinan.
Kemiskinan pun mempunyai keterkaitan yang kuat terhadap rentannya kekerasan suami terhadap istri dalam rumah tangga. Belum lama ini kita mendengar berita dari harian nasional bahwa seorang istri terkapar meninggal karena dibunuh suaminya. Peristiwanya terjadi di Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten. Pembunuhan ini disebabkan karena suaminya kalap akibat persoalan sepele, yakni tidak kebagian lauk ketika ia makan. Karena persoalan itulah istrinya dibantai hingga meninggal dan pembantaian tersebut disaksikan oleh sebagian anak-anaknya. Atas pelbagai peristiwa tersebut, Komnas Perempuan perlu membincangkan persoalan kemiskinan ini dengan persoalan kekerasan yang dihadapi dan dialami kaum perempuan di Indonesia. Demikian Neng Dara Affiah dalam sambutannya.
Pada diskusi pertama bertajuk ” Pemiskinan Perempuan dan Hak Asasi Manusia” dengan pembicara Arimibi Heroepoetri, Ketua Sub Komisi Pemantauan. Arimbi mengungkapkan bahwa negara Indonesia yang sebetulnya secara sumber daya alam melimpah seharusnya mampu menghidupi rakyatnya yang berjumlah kurang lebih 250 juta orang secara layak. Ia juga mengatakan, sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia telah sekian lama terhegemoni oleh negara-negara maju lewat tiga pilar utamanya yakni Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Lembaga Keuangan Internasional (IMF) dan Perusahaan Lintas Negara (MNC), hingga pada banyak aspek kehidupannya sangat tergantung pada situasi pasar dunia dimana jeratan hutang menjerumuskan Indonesia dalam liberalisasi sumber daya yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak salah, ketika harga minyak dunia terus merangkak naik, pemerintah Indonesia kelabakan luar biasa. Pasalnya, cadangan minyak dalam negeri, milik pemerintah, bukan MNC, tidak mampu memenuhi kebutuhan minyak nasional. Artinya pemerintah harus membeli dari pasar dunia, yang jangan-jangan juga berasal dari bumi Indonesia, dengan menggunakan dolar dengan jumlah yang besar. Yang artinya lagi, nilai tukar rupiah menjadi melemah terhadap dolar, sungguh mirip pepatah sudah jatuh ketimpa tangga pula. Sementara di Jakarta; Shell, Petronas dan MNC lainya melenggang membuka SPBU dan menjalani hak ekplorasi bumi Indonesia, Ibu-ibu rumah tangga harus rela mengantri di pangkalan minyak tanah berjam-jam lamanya.
Rangkaian kedua diskusi menghadirkan Wardah Hafidz dari Konsorsium Rakyat Miskin Kota dengan tema “Pemiskinan Perempuan dan HAM.” Wardah menggaris bawahi perempuan saat ini hanya mempunyai tiga pilihan pekerjaan yakni: buruh migran; dunia hiburan–yang menjanjinkan mimpi cinderela ala kesuksesan Inul, dan pekerja seks komersial. Dimana tingkat pendidikan yang rendah dan langgengnya sistem outsourcing memperlemah nilai perlindungan dan kesadaran terhadap hak mereka.
Menurut Wardah, di komunitas miskin kota, perempuan dan anak sangat rentan. Status janda bagi perempuan dipandang miring, karena itu untuk kebutuhan status, para perempuan itu kawin dengan laki-laki yang sudah beristri (dipoligami). Sehingga para laki-laki tersebut bisa datang ke tempat istri yang hanya membutuhkan status perkawinan ini hanya untuk sekedar tidur dan kebutuhan seks.
Praktek aborsi sangat sulit dilakukan oleh para perempuan miskin, informasi yang seharusnya bisa diakses dengan mudah menjadi sangat sulit. Sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana cara aborsi yang benar dan sehat.Tidak ada program pemerintah yang memberikan pengertian kepada mereka jenis makanan apa yang sehat dan gizi yang baik. Selain itu, tidak ada pula bantuan pemerintah terhadap mereka karena Kartu Tanda Penduduk (KTP) tidak berlaku secara nasional, padahal di rumah-rumah sakit hanya menerima warga yang mempunyai KTP sesuai dengan daerah rumah sakit yang dituju.
Akar masalah dari pemiskinan perempuan ini, hemat Wardah, adalah komersialisasi perempuan. Menurutnya, perempuan pekerja seks dan perempuan yang bekerja di dunia hiburan (Nunung Qomariyah)
forum
a. Abortus Imminens
Abortus mengancam, ditandai oleh perdarahan bercak dari jalan lahir, dapat disertai nyeri perut bawah yang ringan, buah kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.
b. Abortus Insipiens
Abortus sedang berlangsung, ditandai oleh perdarahan ringan atau sedang disertai kontraksi rahim dan akan berakhir sebagai abortus komplit atau inkomplit.
c. Abortus Inkomplit
Sebagian buah kehamilan telah keluar melalui kanalis servikalis dan masih terdapat sisa konsepsi dalam rongga rahim.
d. Abortus komplit
Seluruh buah kehamilan telah keluar dari rongga rahim melalui kanalis servikalis secara lengkap.
keempat abortus yang pertama ini saling behubungan:
Abortus Imminens, dapat berlanjut menjadi kondisi --> Abortus Insipiens, kemudian berlanjut menjadi --> abortus inkomplit atau komplit.
e. Abortus tertunda (missed abortus)
Tertahannya (retensi) hasil konsepsi yang telah mati dalam rahim selama 8 mg atau lebih.
f. Abortus Habitualis
Abortus spontan yang berlangsung berurutan sebanyak 3 kali atau lebih.
Tindakan terminasi (pengakhiran) kehamilan dilakukan pada kondisi
- Abortus tertunda (missed abortion)
- Abortus insipien
- Abortus inkomplit
Pengakhiran kehamilan sampai umur kehamilan 12 minggu atau besar uterus sebesar umur kehamilan 12 minggu atau kurang --> tindakan kuretase
Pengakhiran kehamilan > 12 minggu sampai 20 minggu atau uterus sebesar umur kehamilan tersebut --> kuretase hanya dilakukan bila masih terdapat sisa jaringan, setelah dilakukan terapi (misalnya dengan obat perangsang kontraksi uterus)
| Quote: |
Apakah kuret tersebut? Apakah hal ini berhubungan dgn kontrasepsi, atau aborsi? |
saya rasa kuretase tidak berhubungan dengan kontrasepsi, tetapi berhubungan dengan kondisi abortus.
kuretase merupakan salah satu tindakan pengakhiran kehamilan pada kondisi abortus tertentu, tidak semua kondisi abortus (sesuai dengan indikasi).
| Quote: |
intinya kalo orang yang melakukan aborsi itu pasti melakukan kiret |
salah.... (maaf)
jika yang dimaksud orang melakukan tindakan aborsi dengan sengaja, seringkali yang terjadi adalah orang minum obat2an/jamu2an yang merangsang kontraksi rahim
| Quote: |
| kuret itu tidak selalu identik dgn aborsi. |
benar... tindakan kuretase bukan hanya dilakukan pada kondisi abortus tertentu saja
| Quote: |
| ....Aktifitas kuret seperti pada waktu anda menggaruk buah kelapa menggunakan sendok.... |
iya, agak mirip itu
sayangnya.... kuretase kadang disalahgunakan.... buat mengeluarkan janin yang masih hidup atau yang sebenarnya masih bisa dipertahankan....
tindakan pengguguran kandungan yang disengaja